Tampilkan postingan dengan label LPI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LPI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Februari 2011

Mantan Pemain Timnas Inggris Gabung Bandung FC

JAKARTA - Liga Primer Indonesia kedatangan pemain kaliber dunia. Dia adalah mantan pemain Aston Villa dan timnas Inggris, Lee Hendrie yang bakal bergabung Bandung FC.
Hendri merupakan pemain yang telah malang melintang di berbagai klub Liga Prime Inggris, dari Aston Villa, Stoke City, Leicester, Blackpool dan Derby Country. Pemain berusia 33 tahun itu pun pernah mengenakan jersey timnas Inggris meskipun hanya sekali tampil di tahun 1998 silam.
Lee kini resmi menjadi pemain Bandung FC yang telah mengikatnya selama 2 musim. Bahkan masa kontrak bisa diperpanjang.
“Lee Hendrie dikontrak 2 tahun di Bandung FC dan memungkinkan untuk diperpanjang,” ujar pengumuman resmi klub Bandung FC melalui Twitternya.
Bandung FC telah menyediakan nomor punggung bergengsi 10 untuk Hendrie. Hendrie sendiri bakal dibawa ke Solo untuk melakoni laga lanjutan Liga Primer melawan Solo FC, meskipun dia sendiri belum tentu dimainkan.

Senin, 17 Januari 2011

Bahasa Inggris Surat FIFA untuk PSSI Dinilai Buruk

Jakarta - Surat ancaman hukuman FIFA yang dikirimkan kepada PSSI, terkait kontroversi munculnya kompetisi Liga Primer Indonesia, dinilai aneh karena banyak kesalahan dari aspek tata bahasa Inggris.

Seperti diketahui, pada hari Kamis (13/1/2011) lalu PSSI menggelar konferensi pers bersama Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) untuk memberitahukan bahwa FIFA telah mengirim sebuah surat melalui faksimili ke sekretariat PSSI. Disebutkan bahwa badan sepakbola dunia itu akan mengambil tindakan terkait adanya sebuah kompetisi (LPI) yang tidak akui oleh federasi (PSSI).

Pada saat konpers jelang sore hari, Sekjen PSSI Nugraha Besoes tidak menunjukkan tanda tangan di surat tersebut. Baru belakangan ditemukan bahwa surat itu ditandatangani oleh Sekjen FIFA, Jerome Valcke. Paraf itu terdapat di halaman kedua surat.

Surat tersebut telah beredar di internet, dan redaksi detiksport menerima email dari beberapa pembaca yang mengkritisinya dari segi tata bahasa. Disebutkan bahwa ada banyak kesalahan grammar.

Surat itu juga menulis Liga Premier (LPI) in Indonesia, bukan Premier League in Indonesia atau Indonesian Premier League. Beberapa pemakaian kata "to be" juga dinilai tidak tepat.

Keanehan lain terdapat di halaman dua yang hanya memuat tanda tangan Sekjen FIFA Jerome Valcker, yang template-nya berbeda dengan halaman pertama. Di halaman pertama terdapat footer alamat markas FIFA, sedangkan halaman kedua tidak ada, cuma angka 2 untuk menunjukkan status halaman.

"Apakah FIFA tidak punya karyawan untuk memperbaiki kalimat sehingga sesuai dengan tata bahasa dalam surat yang mereka kirimkan?" demikian ditulis Ario Laksamana, mahasiswa Fachhochschule Frankfurt, Republik Federal Jerman, dalam email analiasisnya kepada detiksport.

Sebelumnya, juru bicara Abi Hasantoso juga mempertanyakan keabsahan surat tersebut. Menurutnya, adalah tidak biasa isi surat dan tanda tangan penulisnya tertera dalam halaman yang terpisah. Ia juga tidak merasa heran dengan cepatnya FIFA merespons surat PSSI (selang satu hari). "PSSI bukan sekelas federasi Jerman atau Brasil yang direspon cepat," ujarnya.

Berikut ini kutipan lengkap surat FIFA tersebut, yang beredar di internet:


FACSIMILE
Football Association of Indonesia (PSSI)
Mr Nugraha BESOES
General Secretary
Jakarta

Fax +62215754766

Zurich, 11 January 2011

The case of Liga Premiere in Indonesia (LPI)



Dear General Secretary

We acknowledge receipt of you letter dated 10 January 2011 with regard to the case of the Liga Premiere (LP) in Indonesia and we thank you for it.

The role of the football Association of Indonesia (PSSI) is to organize and supervise football in all its form at national level, as well as to control association football in the territory of your country, as staved in the FIFA statutes as well as in the PSSI statutes (cf. also art 10 and 12 of the FIFA statutes. Furthermore, leagues to a Member of FIFA shall be subordinate to an recognized by that Member (cf. art 8 par. 1 of the FIFA statutes)

We understand from your letter that the PSSI has early reminded on several occasions all relevant parties about the situation under these circumstance and according to FIFA statutes PSSI should sanction all affiliated clubs, affiliated officials and with PSSI registered players including representative team players taking part in the LPI.

We remind you that PSSI must fully comply with FIFA statutes and violation to do so may lead to sanctions (art 13 of the FIFA statutes)

We kindly ask you to send us informed about any development in the regard as we will continue to follow closely the situation. Should the problem persist, we will have no choice but to refer the case to the FIFA Associations Committee scheduled on 1 March 2011 in order to decide on the measures to be taken.


We thank you for your cooperation.


SINCERELY YOURS,
FEDERATION INTERNATIONALE FOOTBALL ASSOCIATION

General Secretary
Jerome Valcke

CC: Alex Soosay, AFC General Secretary

 

PSSI Larang Younghusband Bersaudara ke LPI

Jakarta - Niatan Younghusband bersaudara untuk merumput di Liga Primer Indonesia (LPI) mendapat reaksi berupa larangan dari PSSI. Induk sepakbola Indonesia tersebut menilai bergabungnya Phil dan James ke LPI dapat merugikan Indonesia dan juga Filipina.

Seperti diberitakan sebelumnya, Jakarta 1928 FC diklaim tinggal selangkah lagi merekrut dua bintang timnas Filipina di Piala AFF 2010 itu. Pihak klub pun sudah bertolak ke Manila untuk melakukan negosiasi hari ini.

Belum ada keterangan mengenai kesepakatan, tapi halangan sudah datang dari PSSI. Menurut PSSI apabila Phil dan James jadi bermain di LPI, maka federasi sepakbola kedua negara bisa kena sanksi.

"Saya sudah menelepon Presiden PFF (Asosiasi Sepakbola Filipina) Mariano Araneta untuk mencegah proses transfer tersebut. Saya minta kepada Mariano agar proses ini diblok karena berbahaya bagi perkembangan sepakbola di kedua negara," tutur Sekjen PSSI Nugraha Besoes dalam jumpa pers di Hotel Century, Jakarta, Kamis (13/1/2011) siang WIB.

Ditegaskan Nugraha jika transfer itu terwujud maka akan dianggap ilegal, karena setiap kegiatan jual-beli pemain antar negara harus menggunakan Sertifikat Transfer Internasional (ITC) yang dikeluarkan federasi negara masing-masing.

"Sementara menurut aturan FIFA, federasi hanya boleh mengizinkan ITC untuk pemain yang akan pindah ke liga yang diakui federasi masing-masing. Maka kalau mereka sampai pindah, Indonesia dan Filipina bakal terkena sanksi," lugas pria yang akrab disapa Kang Nug itu.

sumber : detiksport.com

Bicara Peraturan, LPI Sindir PSSI & Nurdin Halid

Jakarta - PSSI berlindung di balik peraturan kala menentang hadirnya Liga Primer Indonesia (LPI). LPI tak menghiraukannya, dan sebaliknya langsung memberikan balasan, sekaligus sedikit menyindir Nurdin Halid.

Dengan dalih pengakuan dari FIFA, PSSI pun menyebut LPI sebagai kompetisi ilegal. Jelang dimulainya kompetisi baru tersebut akhir pekan lalu, sanksi dari FIFA pun disebut-sebut bakal dijatuhkan pada LPI. Tapi pencetus LPI, Arifin Panigoro, memilih untuk cuek.

Belakangan LPI, melalui juru bicaranya, Abi Hasantoso, membalas berbagai dalih peraturan tersebut. Ini bermula dari niat LPI untuk memperjuangkan beberapa pemainnya masuk ke dalam tim nasional Indonesia.

PSSI memang menegaskan bahwa hanya mereka yang bermain di Liga Indonesia-lah yang bisa bermain di timnas Indonesia. Tapi LPI bertahan dengan izin dari Menpora Andi Mallarangeng.

"Pertama-tama kita sudah mendapatkan izin dari Menpora bahwa anak bangsa yang terbaik di bidangnya, termasuk sepakbola, punya hak yang sama untuk membela Indonesia di ajang internasional," ujar Abi kepada detikSport.

Abi pun menyindir PSSI yang kerap bicara peraturan, namun kerap melanggarnya sendiri.

"Jangan bicara di balik peraturan, sementara tak melihat peraturan yang lain."

"Jangan bicara peraturan, sementara tak mengindahkannya sendiri. Jelas-jelas ada peraturan tidak boleh ada di dalam federasi kalau pernah tersandung kasus kriminal, masih dilakukan juga."

"Sementara, ini kan pemain-pemain kita tak pernah terlibat kriminal, masa tak boleh main di timnas," tukasnya.

Ucapan Abi tersebut bisa jadi merupakan sindiran terhadap Nurdin Halid yang pernah dua kali masuk penjara akibat kasus korupsi, namun masih bisa duduk di kursi Ketua Umum PSSI--kendati PSSI berdalih, FIFA sudah menyetujui statuta mereka.

sumber : detiksport.com

Samarinda FC Persiapkan Diri Ikuti LPI

Samarinda - Dukungan terhadap Liga Primer Indonesia (LPI) kembali bergulir. Sejumlah pemerhati sepakbola di Samarinda menggagas klub Samarinda FC yang akan dipersiapkan mengikuti kompetisi LPI.

Samarinda FC yang dibentuk pekan lalu itu juga telah memiliki pengurus, sebagai syarat menuju klub profesional. Manajemen menyebut pembentukan Samarinda FC bukan untuk menyaingi saudaranya Persisam Putra Samarinda, yang kini berlaga di Indonesian Super League (ISL).

"Keberadaan kita bukan tandingan untuk Persisam Putra," kata manajer tim Samarinda FC, Hasan, ketika menggelar konferensi pers di Restoran Akmal, Jl. Awang Long, Samarinda, Senin (17/01/2011).

Klub ini belum menerima dana dari pihak LPI karena memang belum mendaftarkan diri. Yang jelas, mereka mengklaim takkan menggunakan dana dari APBD.

Dalam kepengurusan Samarinda FC, selain Hasan, jabatan ketua umum dipegang oleh Syaifuddin Zuhri serta General Manager dijabat Victor Juan.

Persiapan tim terus digeber Samarinda FC. Dalam waktu dekat tim yang rencananya akan menjadikan Stadion Madya Sempaja Samarinda sebagai home base itu akan mengikuti kompetisi lokal Lanud Cup 2011 di Balikpapan, Kalimantan Timur, akhir Februari.

"Ini sekaligus sebagai ajang seleksi pemain U-21 yang akan kita daftarkan pada bulan Maret atau April mendatang," ujar Hasan.

Hasan menjelaskan, rencananya skuad Samarinda FC akan merekrut 18 pemain termasuk lima pemain asing. Namun demikian, hingga saat ini manajemen masih merahasiakan nama-namanya.

"Nanti lihat sendiri saat kita latihan yang kita gelar dua kali dalam seminggu. Sabtu dan Minggu," tutup Hasan.

FIFA Akui Kirim Surat ke PSSI Soal LPI

Jakarta - Teka-teki surat FIFA ke PSSI tentang bergulirnya Liga Primer Indonesia (LPI) mulai terkuak. FIFA membenarkan bahwa pihaknya memang mengirim surat ke PSSI.

Seperti diberitakan sebelumnya, PSSI mengaku menerima surat dari FIFA terkait penyelenggaraan LPI. Surat tersebut berisi permintaan agar PSSI menjatuhkan sanksi kepada pihak-pihak terkait sesuai aturan yang ada dalam statuta FIFA. Jika tindakan tersebut tidak dilakukan, bisa ada sanksi yang dijatuhkan pada PSSI (Indonesia).

Banyak pihak yang meragukan keaslian surat FIFA yang ditunjukkan oleh PSSI. Kecurigaan yang muncul antara lain disebabkan oleh tata bahasa Inggris yang sangat buruk dan rumitnya menemukan tanda tangan Sekjen FIFA Jerome Valcke dalam surat tersebut.

Untuk menjawab keraguan ini, redaktur olahraga harian Jakarta Globe, Sandy Pramuji, bertanya langsung ke FIFA untuk memastikan keaslian surat tersebut. Setelah berusaha mencari kontak FIFA lewat situs resminya, ia mengirim surat elektronik ke FIFA pada Senin (17/1/2011) pagi, sekitar jam 8 pagi.

"Sebagai media, kita harus cover both side. Saya berinisiatif mencoba mengirim email kepada FIFA untuk menanyakan masalah ini," ungkap Sandy saat dihubungi detikSport lewat sambungan telepon, Senin (17/1/2011).

Surat elektornik balasan dari FIFA datang di hari yang sama, sekitar pukul 5 sore. Di situ FIFA membenarkan bahwa ada surat dari Sekjen FIFA kepada PSSI tertanggal 11 Januari 2011. Namun FIFA tak menjelaskan apa isi surat mereka.

"We can confirm there was a letter from the FIFA Secretary General to the Football Association of Indonesia on 11 January 2011. Best Regards, FIFA Media Department." Demikian balasan singkat email tersebut (lihat di sini).

"Saya sudah tulis cukup detil, hal-hal apa saja yang terkesan janggal dari surat yang ditunjukkan PSSI tersebut. Saya juga sudah berusaha meminta kopi surat mereka. Tapi jawabannya hanya seperti yang tertera di email itu," lanjutnya.

Jawaban FIFA via email tersebut cepat beredar di dunia internet dan menjadi pembahasan di forum-forum diskusi. Pernyataan lain yang muncul, bagaimana sesungguhnya surat FIFA itu, apakah sama persis dengan yang diperlihatkan Sekjen PSSI Nugraha Besoes dalam jumpa pers hari Kamis lalu, yang mana tata bahasa Inggris-nya berantakan dan template halaman pertama berbeda dengan halaman kedua yang memuat tanda tangan Sekjen FIFA Jerome Valcke.


NH : Surat FIFA Asli dan Tak Mengada-ada

Jakarta - Ramai soal surat FIFA ke PSSI terus berlanjut. FIFA sendiri sudah menyebut telah mengirim surat ke federasi sepakbola nasional itu. Dan kini giliran Ketum PSSI Nurdin Halid yang menegaskan surat tersebut asli "1.000 persen"

"Soal surat FIFA, 'kan sudah diberitahu Sekjen (Nugraha Besoes) kalau surat itu asli. Pokoknya saya yakinkan surat itu asli 1.000 persen. Kalau tidak percaya silakan tanya aja ke FIFA," tegas Nurdin kepada wartawan di Kantor PSSI, Senin (17/1/2011) malam WIB.

Sebelumnya sempat terjadi kesimpang-siuran mengenai keaslian surat tersebut, dikarenakan awalnya tak ada tangan dari Sekjen FIFA serta penggunaan tata bahasa Inggris yang buruk.

Pada akhirnya seorang rekan wartawan menanyakan langsung kepada FIFA melalui surat elektronik. Dan dipastikan bahwa FIFA mengakui bahwa mereka telah mengirim surat kepada PSSI.

"Yang pasti mana mungkin Sekjen memberitahu yang tidak pasti. Kita adalah organisasi yang patuh pada peraturan," tuntas Nurdin.

sumber : detiksport.com

Pelan-Pelan Saja, LPI

Jakarta - Beragam suara muncul pasca dimulainya kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI). Kalau memang membawa misi perubahan, LPI tak perlu memusingkan komentar-komentar itu dan boleh berprinsip: pelan-pelan saja.

Genderang kompetisi LPI sudah
ditabuh sejak 8 Januari lalu. Solo FC dan Persema Malang mendapat kehormatan untuk melakoni pertandingan bersejarah itu, dengan Laskar Ken Arok keluar sebagai pemenangnya setelah menang telak 5-1.

Hingga Minggu (16/1) kemarin, LPI baru menyelesaikan enam laga. Meski ada laga yang sempat terhambat izin kepolisian, pada akhirnya keenamnya bisa terselenggara dengan baik.

Komentar publik tanah air atas laga-laga LPI yang sudah digelar terpolarisasi ke dua kutub berlawanan. Banyak yang memberikan apresiasi, tapi tak sedikit pula yang masih mencibirnya.

Yang melontarkan nada pujian kebanyakan menyoroti laga yang berlangsung fair, wasit yang menjalankan tugas dengan baik, pemain yang sportif, dan penonton yang tetap tertib di dalam dan luar stadion.

Sementara yang masih mengeluarkan komentar sinis berpendapat kualitas permainan para pemain LPI masih 'kelas kampung', jauh di bawah para bintang Indonesian Super League (ISL). Kualitas siaran langsung laga LPI juga dihujat, karena masih 'abal-abal' dan kurang sedap di mata pemirsa.

Apapun komentar yang muncul, LPI memang harus menerimanya sebagai konsekuensi dari sebuah perhelatan yang serba pertama. Komentar positif dan negatif tetap harus ditampung, sebagai bahan masukan demi perbaikan di masa depan.

Pujian yang mengalir tak perlu ditanggapi secara berlebihan oleh LPI. Mereka tetap harus menundukkan kepala dan rendah hati. Bisa menggelar enam laga dengan baik bukan berarti misi mereka telah tercapai. Tantangan yang lebih berat sudah menanti di laga-laga berikutnya.

Kualitas wasit yang bagus tentu tak bisa diukur dari beberapa laga saja. Apalagi wasit-wasit yang memimpin laga LPI, seperti Fiator Ambarita (Solo FC vs Persema) dan RA. Mas Agus (Real Mataram vs Bali Devata) adalah sosok yang sudah banyak mengecap asam garam kompetisi Liga Indonesia, jadi bukan hal mengejutkan kalau mereka bisa memimpin laga tanpa banyak cacat.

Penonton sejauh ini bisa tertib? Wajar saja. Dengan usia yang masih sangat muda, LPI tentu belum melahirkan rivalitas antarklub yang tentu akan berujung pada tingginya tensi pertandingan. Bandingkan dengan duel Persija versus Persib atau Persebaya kontra Arema yang potensi rusuhnya cukup besar, karena rivalitas di antara mereka memang telah terbangun sejak lama.

Sementara nada sumbang yang mengejek LPI juga tak perlu dirisaukan. Banyak kekurangan di musim perdana itu lumrah. Namanya juga baru mulai belajar, tentu harus dimaklumi kalau masih belum sesempurna yang diharapkan.

Malah konyol kalau kita membandingan LPI dan ISL secara apple to apple. Memaksa bayi yang baru lahir untuk berlomba dengan bocah yang sudah bisa berlari tentu menggelikan. LPI baru menggelar enam laga, sementara ISL (dan kompetisi bikinan PSSI sebelumnya) sudah merampungkan ribuan pertandingan.

Harusnya kita balik bertanya kepada orang-orang yang mencoba membandingkan LPI dan ISL. Sudah bertahun-tahun bikin kompetisi cuma gitu-gitu aja? Masih ada kungfu di lapangan? Masih ada wasit bisa diintervensi? Masih ada penonton anarkis? Masih ada hukuman yang mencla mencle? Masih ada Ketua PSSI yang bisa membatalkan keputusan Komisi Disiplin seenak perut sendiri?

Bukti paling sahih jelas tersaji dalam laga Persisam kontra Sriwijaya FC, Minggu (16/1/2011) kemarin. Okto Maniani yang notabene andalan timnas dikartumerah gara-gara menanduk wasit Oky Dwi Putra. Entah Okto yang terpancing emosi atau Oky yang tak becus memimpin laga, yang pasti itulah gambaran terkini kompetisi sepakbola tertinggi di tanah air bikinan PSSI.

LPI tetap harus fokus pada misi awalnya untuk membawa sepakbola Indonesia ke arah yang lebih baik. Kalau di tahun-tahun awal ini masih harus dilalui dengan perjuangan yang berdarah-darah itu wajar. Kompetisi tahun 2011 bisa rampung dan semua laga bisa digelar tanpa hambatan saja sudah jadi prestasi yang luar biasa.

Perbaikan demi perbaikan tentu wajib dilakukan LPI seiring berjalannya waktu. Kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi akan jadi guru terbaik menuju kompetisi profesional yang telah dijanjikan. Jangan cepat puas dan jangan gentar dengan hujatan yang datang. Tak perlu memasang target tinggi jika memang tak rasional.

Pelan-pelan saja, LPI. Publik tanah air masih sabar menanti perubahan yang kalian janjikan. 


Penulis: Meylan Fredy Ismawan

Selasa, 11 Januari 2011

Tinggalkan Arema, Njanka Merapat ke LPI?

Malang - Kabar bahwa Pierre Njanka meninggalkan Arema FC dibenarkan oleh pihak klub juara Indonesia itu. Pemain Kamerun itu saat ini dikabarkan sedang mengincar klub di Liga Primer Indonesia.

"Kita menghormati keputusan yang diambil Njanka. Itu merupakan hak dia," ujar Media Officer Arema FC Sudarmadji, Selasa (11/1/2011).

Yayasan Arema Indonesia sendiri, lanjut Sudarmadji, telah menyiapkan pemain pengganti Njanka untuk mengarungi sisa kompetisi Indonesia Super Liga (ISL). Dikatakannya, yayasan memberikan kebebasan kepada pemain untuk menentukan apakah melanjutkan diri tetap memperkuat Arema atau memilih keluar.

"Kami (yayasan,red) bebas saja. Pemain memutuskan keluar, itu hak mereka. Bagi pemain yang memutuskan tetap di Arema, kita ajak fokus menyelesaikan sisa kompetisi," bebernya.

Sudarmadji mengaku enggan berspekulasi jauh terhadap keluarnya Njanka, yang disebut-sebut akan melamar ke sebuah klub yang bermain di LPI. Sesuai alasan yang dilayangka Njanka keluar agar bisa fokus bersama keluarga di Kamerun.

"Alasan dia adalah demi keluarga, tidak ada yang lain. Kalau ada hal lain, kami tidak tahu. Karena yang bersangkutan tidak menyampaikannya," ujar mantan wartawan ini.

Njanka dipastikan sudah tidak masuk skuad "Singo Edan" untuk melakoni pertandingan melawan PSPS di lanjutan Indonesia Super League (ISL) hari Rabu (12/1) besok di Pekanbaru.
 
sumber : detiksport.com

LPI : Jakarta 1928 Selangkah Lagi Dapatkan Duo Younghusband

Jakarta - Jakarta 1928 mengonfirmasi bahwa pihaknya bakal memboyong personel timnas Filipina James dan Phillip Younghusband. Selain itu tim ibukota ini juga tengah mendekati Emanuel De Porras.

Diberitakan Philippine Daily Inquirer Minggu kemarin, Franco Lorenzo selaku agen dari Younghusband bersaudara siap untuk bergabung dengan Jakarta 1928. Lorenzo mengatakan hari Rabu perwakilan dari klub LPI tersebut akan terbang ke Filipina untuk finalisasi.

Hal ini dikonfirmasi oleh pihak Jakarta 1928. "Iya benar. Perwakilan dari manajemen besok (Rabu 12 Desember) kita ke Filipina. Rencananya hari itu sign contract," ujar manajer Jakarta 1928 Ardhi Tjahjoko seperti yang di beritakan detiksport melalui telepon, Selasa (11/1/2011) pagi WIB.

Ardhi menceritakan bahwa pendekatan terhadap Younghusband bersaudara sudah dilakukan sejak Piala AFF silam. Ada pun untuk soal nilai kontrak, Ardhi mengatakan detilnya dijelaskan besok.

"Salah satu syarat yang diminta oleh Younghusband bersaudara adalah ketika timnas Filipina ada jadwal bertanding, mereka pulang ke negaranya," kata Ardhi.

Kehadiran duo Filipina itu akan menyusul dua pemain lain yang sudah lebih dahulu berseragam Jakarta 1928 yakni Gustavo Ortiz dan Leonardo.

Selain duo Filipina itu, klub ibukota ini juga tengah mengincar pemain lain. "Kami juga lagi nego dengan Emanuel De Porras. Komunikasi dengan dia baru lewat telepon dan surat elektronik (email)," jelas Ardhi.

"Intinya dia ingin bergabung. Namun masih belum ada kecocokan harga," tuntas Ardhi.

De Porras sendiri memiliki pengalaman bermain di Indonesia. Pemain berjuluk "Cachi" tersebut pernah menjadi pilar di Persija Jakarta dan PSIS Semarang.

sumber : beritabola.com

Senin, 10 Januari 2011

Profil Singkat Peserta Liga Primer Indonesia (LPI) 2011


1. Aceh United

Persebakbolaan di Kota Banda Aceh kembali hidup dengan kehadiran Aceh United sebagai salah satu peserta Liga Primer Indonesia. Banda Aceh memiliki potensi besar karena banyak tersedia bakat-bakat pemain muda dan suporter sepakbola yang aktif. Adalah Aceh United yang akan menampung bakat-bakat pemain muda Banda Aceh untuk berprestasi dan memberikan tontonan menghibur kepada para suporter.

Stadion : Harapan Bangsa, Banda Aceh (kapasitas 40.000)

Pelatih : Lionel Charbonnier (Perancis)

Mantan kiper ketiga timnas Prancis di Piala Dunia 1998 ini banting setir menjadi pelatih usai gantung sepatu. Saat menjadi direktur teknik federasi sepakbola Tahiti, Lionel Charbonnier mengantarkan timnas U-20 negara di kepulauan Karibia tersebut ke Piala Dunia FIFA U-20 tahun 2009. Kini publik Indonesia akan menyaksikan langsung kehandalan pemain juara dunia ini menangani tim peserta LPI yang bermarkas di ujung paling barat nusantara, Aceh United.



2. Bali De Vata

Bali tercatat pernah memiliki tim-tim yang bermain di pentas sepak bola nasional, seperti pada era Liga Sepak Bola Utama (Galatama) tahun1980-an dan Liga Divisi Utama pada tahun 2000-an. Kini Liga Primer Indonesia (LPI) bertekad membawa semangat Bali dalam revolusi sepakbola nasional melalui klub Bali Dewata.

Stadion : Kapten i Wayan Dipta, Gianyar (kapasitas 25.000)

Pelatih : Willy Scheepers (Belanda)

Pelatih asal Belanda Willy Scheepers dipercaya menangani Bali De Vata. Sebelum mampir di kawasan wisata ternama dunia ini, Scheepers tercatat sebagai juru latih klub-klub Eropa, seperti FC Oberwinterthur, FC Kreuzlingen, dan APEP Pitsilia. Jabatan teknis terakhir yang dipegang Scheepers adalah menjadi direktur teknik di liga utama Siprus.



3. Bandung FC

Bandung selalu memiliki klub-klub yang berprestasi di kancah sepakbola nasional. Setelah Persib dan Maung Bandung Raya, kini muncul Bandung FC sebagai klub sepakbola baru di Bandung yang akan semakin mengharumkan nama kota kembang ini. Kekuatan klub muda ini langsung terlihat dalam Laga Pra Musim kompetisi dan memiliki harapan besar di arena Liga Primer Indonesia.

Stadion : Siliwangi, Bandung (kapasitas 25.000)

Pelatih : Nandar Iskandar

Nama Nandar Iskandar tidak bisa dipisahkan dari percaturan sepakbola Indonesia. Selain pernah menjadi pemain timnas di tahun 1970-an, Nandar yang identik dengan Persib Bandung ini juga sempat melatih timnas Indonesia pada 1999 hingga 2000. Sebagai pelatih, kiprah Nandar memang tak perlu diragukan. Bandung Raya, Persib Bandung, PKT Bontang, Perseden Denpasar, PSPS Pekanbaru, dan Persiba Bantul pernah merasakan tangan dinginnya.



4. Batavia Union

Mewakili kota Jakarta, Batavia Union merupakan klub baru dengan materi pemainpemain yang handal dan berpengalaman menggeluti liga nasional. Meski baru, klub ini telah memiliki basis suporter yang setia dan bersemangat. Klub ini juga merupakan salah satu klub yang bersinar pada Laga Pra Musim Kompetisi LPI.

Stadion : Tugu, Jakarta (Kapasitas 20.000)

Pelatih : Roberto Bianchi (Brasil)

Pelatih asal Brazil pemegang paspor Spanyol ini mengantongi sertifikat UEFA PRO pada tahun 2006. Pernah melatih Zamora FC, Roberto Bianchi juga lama berkecimpung di Ciuded de Muscia, Mato Grosso de Sul, Bullense, dan Beijing Guoan FC. Kini Beto melangkah bersama Batavia Union.



5. Bogor Raya

Klub yang dikenal dengan nama Laskar Kujang ini berisikan manajemen muda yang kreatif dan penuh semangat. Klub ini juga membuat kejutan dengan mendatangkan mantan pemain River Plate, Diego Bogado, gelandang sayap asal Argentina berusia 24 tahun. Bogor Raya optimis dapat mengubah persepakbolaan Indonesia melalui semangat generasi muda.

Stadion : Persikabo, Bogor (kapasitas 15.000) dan Pajajaran, Bogor (kapasitas 12.000)

Pelatih : John Arwandy

LPI menjadi pertanda dimulainya debut John Arwandi sebagai pelatih. Sebelumnya, John malang-melintang sebagai staf teknik di sejumlah klub Indonesia. Tercatat pernah menjadi pelatih fisik PS Semen Padang pada 2007, John kemudian dipercaya menjadi asisten pelatih Persikabo Bogor tahun 2008-2009. Kini John bertugas memimpin Bogor Raya meraih sukses di LPI.



6. Cendrawasih Papua

Cendrawasih FC lahir dari klub Kontiki FC, yang merupakan binaan para mantan pemain Persipura yang tergabung dalam Asosiasi Mantan Pemain Persipura (AMPP). Papua sendiri dikenal sebagai ladang bakat-bakat muda pemain sepakbola Indonesia dan secara konsisten melahirkan pemain-pemain bintang.

Stadion : Mandala, Jayapura (kapasitas 30.000)

Pelatih : Uwe Erkebrecher (Jerman)

Pelatih asal Jerman ini pernah menangani klub Eropa seperti tim Jerman FC Koln Jugend, FC Carl Zeiss Jena, dan beberapa klub divisi II di Jerman. Dengan pengalaman melatihnya di berbagai klub, Uwe Erkebrecher ingin menjadi bagian dari perubahan sepak bola Indonesia dengan melatih tim Cendrawasih Papua.



7. Jakarta 1928

Jakarta 1928 merupakan salah satu klub yang unik di pentas Liga Primer Indonesia. Klub ini membawa semangat perubahan yang diusung Voetbalbond Indonesish Jakarta (VIJ), salah satu klub sepakbola yang menjadi bagian perjuangan di masa penjajahan dulu. Semangat yang sama selama ini bersemayam di klub Persija Jakarta.

Stadion : Lebak Bulus (Kapasitas 25.000)

Pelatih : Bambang Nurdiansyah

Inilah comeback Bambang Nurdiansyah di bangku pelatih setelah menangani klub-klub ternama Indonesia, seperti Pelita Krakatau Steel, PSIS Semarang, serta terakhir Arema Malang. Beberapa kali pula Bambang dipercaya menangani timnas yunior Indonesia di turnamen internasional, seperti Asian Games 2006. Pernah memperkuat timnas Indonesia sebagai pemain selama 11 tahun, Bambang kini menjadi arsitek utama Jakarta 1928.



8. Kabau Padang

Kabau Padang lahir dari inspirasi kemandirian yang telah dibangun oleh klub sepakbola mandiri Cement Padang. Melalui persiapan yang cenderung tertutup, Kabau Padang akan menyajikan gebrakan-gebrakan di dalam arena Liga Primer Indonesia.

Stadion : Agus Salim, Padang (kapasitas 28.000)

Pelatih : Divaldo Alves (Portugal)

Sebelum melatih Kabau Padang, Divaldo Alves berpengalaman menangani tim-tim di Thailand, Malaysia, dan Hong Kong. Bahkan tahun 2009 lalu Alves pernah melatih Persijap Jepara. Sebagai modal utama mengarungi kiprah kepelatihan di Indonesia, Alves membawa serta pengalaman mengikuti pendidikan fisik dan olahraga di Portugal dan memegang sertifikat pelatih UEFA A-Level.


9. Ksatria XI Solo FC

Kota Solo memiliki sejarah panjang dan membanggakan dalam persepakbolaan Indonesia. Klub asal kota Solo sempat menjuarai Galatama sebanyak 8 kali. Namun belakangan, nama Solo seakan tenggelam di pentas sepakbola nasional dan Jawa Tengah. Kini, Solo FC siap membawa Solo kembali berjaya di pentas nasional melalui Liga Primer Indonesia.

Stadion : Manahan, Solo (kapasitas 24.000)



10. Manado United

Manado United merupakan klub sepakbola yang sudah cukup lama berdiri di Manado. Masyarakat di Manado sendiri sangat menantikan kehadiran dan selalu mendukung klub sepakbola yang dapat berprestasi dari daerahnya. Fokus Manado United adalan pengembangan pemain lokal. Diperkuat oleh mantan pemain-pemain Persma serta kehadiran marquee player Amaral, Manado United siap berprestasi pada musim kompetisi Liga Primer Indonesia pada tanggal 8 Januari 2011 nanti.

Stadion : Klabat, Manado (kapasitas 20.000)

Pelatih : Muhammad Al Hadad

Muhammad Al-Hadad sudah lama malang-melintang di persepakbolaan nasional. Tercatat Niac Mitra Surabaya pernah dibawanya menjuarai tiga kali Piala Galatama. Selanjutnya, Persijatim dan Persim Maros pernah merasakan kiprah kepelatihannya. Terakhir, Al Hadad menukangi Persita Tangerang tahun 2008 sebelum memutuskan untuk hijrah ke Manado United.



11. Medan Bintang

Sepakbola merupakan sebuah olahraga yang sangat digandrungi masyarakat Medan, dimana sejumlah klub-klub sepakbola sempat mengukir prestasi di kancah nasional dan internasional. Adalah Medan Bintang, klub baru yang mendapat dukungan sejumlah elemen, yang berambisi mengangkat dan membesarkan prestasi kota Medan.

Stadion : Teladan, Medan (kapasitas 20.000)

Pelatih : Michael Feichtenbeiner (Jerman)

Michael Feichtenbeiner pernah menjadi managing director Bundesliga divisi dua danpernah pula melatih klub Malaysia, Selangor MPPJ dan kini di Bintang Medan. Pelatihasal Jerman ini merupakan pemegang sertifikat pelatih UEFA Pro Coach Licence.


12. Medan Chiefs

Medan Chiefs lahir dari semangat klub sepakbola Pro Titan, yang memang sudah tidak lagi mengandalkan APBD. Pro Titan sudah lama bergelut di kancah sepakbola nasional sebagai klub yang mandiri. Semangat perjuangan klub sepakbola dari Medan tersebut akan berkembang melalui Medan Chiefs.

Stadion : Teladan, Medan (kapasitas 20.000)

Pelatih : Jorg Steinebruner (Jerman)

Sepakbola Asia bukan barang baru bagi Jorg Steinebruner. Pelatih asal Jerman ini berpengalaman melatih sejumlah klub Singapura, seperti Woodland Wellington, Sengkang Punggol, dan Etoile. Mulai tahun 2011 ini, Steinebruner “menyeberang” beradu taktik di persepakbolaan Indonesia bersama Medan Chiefs.



13. Persebaya

Persebaya memiliki sejarah panjang dalam persebakbolaan nasional Indonesia. Klub ini sempat meraih prestasi gemilang ketika klub-klub Perserikatan dan Galatama bersatu dalam Liga Indonesia (1994) dan meraih gelar juara pada tahun 1997 dan 2005. Kini, Persebaya membuka lembaran baru untuk menorah prestasi di Liga Primer Indonesia.

Stadion : Gelora 10 Nopember, Tambaksari, Surabaya (kapasitas 35.000)

Pelatih : Aji Santoso

Tidak ada yang menyangsikan kiprah Aji semasa masih bermain. Posisi bek sayap kiri timnas Indonesia adalah langganannya, begitu juga dengan ban kapten. Reputasi itu yang membuatnya pernah membela klub-klub papan atas tanah air, seperti Arema Malang, Persebaya Surabaya, PSM Makassar, dan Persema Malang. Sejak 2009, Aji dipercaya menangani Persebaya hingga saat ini.



14. Persema

Persema memiliki visi untuk memajukan persebakbolaan Indonesia. Berkat visi tersebutlah, Persema memilih untuk bergabung dengan Liga Primer Indonesia. Saat ini Persema telah memiliki tim yang sangat tangguh dan memiliki peluang besar di kancah Liga Primer Indonesia.

Stadion : Gajayana, Malang (kapasitas 30.000)

Pelatih : Timo Scheuneman (Jerman)

Pelatih kelahiran Jerman yang fasih berbahasa Indonesia ini pernah bermain di klub college Amerika Serikat, Master Mustangs, dan pada 1997 menjadi pemain Persiba Balikpapan. Setelahnya, Indonesia seakan menjadi tanah air bagi Timo. Memegang lisensi kepelatihan UEFA A sejak 2007 lalu, Timo pernah dipercaya menangani timnas sepakbola putri Indonesia di SEA Games 2008 dan Persema sejak 2010 ini.



15. Persibo

Tim “Laskar Angling Dharma” berdiri pada 12 Maret 1949 dan merupakan juara Divisi Utama musim 2009-1010. Dengan prestasi tersebut, klub ini siap menoreh lembaran sejarah baru di Liga Primer Indonesia.

Stadion : Letjen Haji Sudirman, Bojonegoro (kapasitas 15.000)

Pelatih : Sartono Anwar

Sartono adalah sosok yang sudah lama dikenal pecinta sepakbola Indonesia. Salah satu pencapaian besar Sartono semasa bermain adalah ketika membawa PSIS Semarang menjadi juara perserikatan 1987 dengan mengalahkan Persebaya Surabaya. Selain melatih Persibo, Sartono juga sempat duduk di bangku asisten pelatih timnas futsal Indonesia pada 2002 silam.



16. PS Makassar

PS Makassar merupakan hasil merger dari PSM dengan Makassar City. Berbekal pengalaman panhang di sepakbola nasional, PS Makassar adalah salah satu tim yang memiliki potensi besar di Liga Primer Indonesia.

Stadion : Gelora Andi Mattalata, Makassar (15.000)

Pelatih : Robert Alberts

Robert adalah pelatih yang sudah beberapa kali membuat prestasi untuk tim yang dilatihnya. Tahun 2009-2010, Robert membawa Arema Indonesia menjadi juara Indonesia Super League dan tahun 2010 tim besutannya menjadi Runner Up di Liga Indonesia. Selain itu ia pernah menyandang titel Best Coach berturut-turut di Singapura dan Malaysia. Pria kelahiran Belanda dan pernah bermain di Ajax Amsterdam dan Clermond-Ferrand ini benar-benar ingin memajukan persepakbolaan Indonesia.


17. Real Mataram

Gairah sepakbola Yogyakarta kembali bersinar dengan hadirnya klub Royal Mataram. Nama Royal Mataram akan mewakili semangat dan kekuatan Kerajaan Mataram yang mendapat dukungan besar dari masyarakat Yogyakarta. Berbekal pemain-pemain berpengalaman, klub ini merupakan salah satu yang terkuat dengan mengantongi dua kemenangan.

Stadion : Maguwoharjo, Yogyakarta (kapasitas 30.000)

Pelatih : Jose Basualdo (Argentina)

Jose Basualdo pernah mencicipi Piala Dunia 1990 dan 1994 semasa masih bermain membela timnas Argentina. Usai gantung sepatu, Basualdo menangani klub Ekuador, Deportivo Quito. Setelahnya, Basualdo menangani sejumlah klub Amerika Latin, seperti Universitario de Deportes, El Porvenir, Cienciano, Santiago Morning, dan Universidad de Santiago FC sebelum akhirnya dipinang Real Mataram.



18. Semarang United

Klub yang berbasis di Semarang, Jawa Tengah, ini sengaja disiapkan khusus untuk mengikuti Liga Primer Indonesia. Klub yang digagas oleh Novel Al Bakrie ini mendapat dukungan luas dari masyarakat sepakbola Kota Semarang. Bersama marquee player Amancio Fortes, Semarang United akan menjadi salah satu klub yang paling disegani di kancah Liga Primer Indonesia.

Stadion : Jatidiri, Semarang (kapasitas 25.000)

Pelatih : Edy Paryono

Edy Paryono merupakan pelatih yang berpengalaman karena sempat menyerap ilmu dari Ivan Kolev dan Peter Withe ketika menjadi asisten dua pelatih Eropa itu di timnas Indonesia. Setelahnya, Edy menjadi pelatih PSIM Yogyakarta, PSIS Semarang, Persipur Purwodadi, hingga akhirnya menangani Semarang United pada musim perdana Liga Primer Indonesia.



19. Tangerang Wolves

Semangat pendukung sepakbola di Tangerang tidak dapat diragukan lagi. Keberadaan Tangerang United di kota industri ini diharapkan dapat meningkatkan geliat dan semangat persepakbolaan lokal. Dipimpin oleh pelatih yang jeli akan bakat-bakat muda, klub ini yakin dapat memperoleh tempat tersendiri di hati para pecinta sepakbola Indonesia.

Stadion : Benteng (kapasitas 25.000)

Pelatih : Paulo Camargo (Brasil)

Di negara asalnya, Brasil, Paulo Camargo dikenal pelatih yang sangat serius dalam menangani tim dan jeli menciptakan pemain berbakat. Salah satu anak didiknya adalah Kaka ketika masih bermain di tim junior São Paulo Futebol Clube. Kini, kemampuan tersebut dapat ditularkan ke Indonesia. Kita nantikan siapa pemain muda cemerlang yang dilahirkan Camargo bersama Tangerang Wolves.